#mediabelajarsosial tema SEPAKBOLA

Tags

, ,

Umpan Tema Baru

#‎belajar‬, ‪#‎sosialmedia‬, ‪#‎mediabelajarsosial‬

ane mau tutup kasus soal APILL dan belok kiri kemaren… wis ben kaya apa anane wae…

‪#‎sekarang‬ ane mau tawarkan tema baru, mumpung koneksi lancar….
sesuai dengan gambarnya, sepakbola…

Sedikit banyak ane sepakat dengan tidak adanya organisasi yang menaungi olahraga ‪#‎sepakbola‬ di Indonesia. Wong, menurut ane, dinaungi apa ga, sebenernya juga inti dari olah raga itu ga terpengaruh. coba ane kasih kutipan sedikit:

“Dari pertandingan ini kemudian muncul istilah sepak bola gajah. Istilah ini, antara lain, lahir karena pertandingan Persebaya kontra Persipura itu dipimpin wasit yang berasal dari Lampung, tempat gajah-gajah bisa bermain bola.

Selain itu, istilah sepak bola gajah juga dipakai karena dalam pertandingan sepak bola gajah yang sesungguhnya –antara lain di Lampung, gajah-gajah tak tahu kemana harus mencetak gol. Mereka sepenuhnya dikendalikan pawang.

Istilah sepak bola gajah kemudian dilekatkan untuk pertandingan sepak bola yang kedua timnya saling berebut untuk kalah, seperti yang terjadi antara PSS Sleman dengan PSIS Semarang”

(BLASSSS …. kutipane ora nyambung karo sing diomongke…..)
itu kutipan dari bola dot tempo dot co…
nah, apakah di antara teman teman ane ada yang punya pendapat berbeda mengenai di ‪#‎BEKU‬ kan nya ‪#‎PSSI‬ ?

atau barangkali ada yang berminat untuk memulai dengan topik baru lainnya….

koment pertama saya:

ane mau bilang: semua yang ada di Indonesia, mulai dari sekolah, rumah, jalan, olahraga, wilayah, agama, kedudukan, bahkan sampai ke di mana dan bagaimana cara menikmati #senidijadikan sarana untuk #BERBEDA secara #ekstreem.

Maksud ane ekstrim di sini adalah, kalo tidak begini, maka Ente bukan bagian dari kami. Kalo bukan bagian dari kami, #jangan di sini!.
atau, kalau tidak sepaham dengan cara kami, Ente harus pergi, atau #MATI.

sekolah mengajarkan apa?
rumah mengajarkan apa?
televisi mengajarkan apa?
pengajian mengajarkan apa?
rapat RT mengajarkan apa?
arisan dasa wisma mengajarkan apa?
siapa mengajarkan apa?

lha ane mau ikut mengajarkan apa, coba?

ane cuma mau bicara (di sini saja) setelah malam itu bersama teman kampung numpang ngoceh di angkringan #bale_amor bersama pak Yanto, sok sok an ngomongke masalah media sosial yang sangat membabi budeg menghajar nalar, terutama anak anak dan kalangan yang berusia sedikit di atas anak-anak….

Lha apakah media sosial tidak bisa dipergunakan dengan lebih berfaedah guna?
kalau ga bisa, ya udah, haramkan saja!!! (kaya MUI wae, maen haram haraman…)
kalau bisa, terus bagaimana caranya?

jal…. tak takon aku….
siapa yang harus memulainya?
jawabane kaya jawaban dari pertanyaan disik endi, endog apa pithik?

yen sing ditekoki aku, tak jawab: “Sing paling disik kui jenenge SILIT PITHIK!!!”

Selamat merayakan kebahagiaan bagi teman teman yang tembus 2 angka HK malam tadi….

Hari Baru – Seri Mengenal Diri

Tags

, , , ,

Hari baru

Hari ini adalah hari baru. Sudah tidak berada di tempat lama. Tetapi belum juga disebut mempunyai tempat baru. Namun ini adalah hari baru. Selayaknya aku rayakan hari baru ini dengan mandi sesegar mungkin, menyiapkan tenaga untuk kerja yang lebih keras lagi. Untuk apa merayakan hari baru?

Resolusi

Lebih tepatnya bukan hari baru sebab lebih pas kalau aku menyebut hari ini sebagai resolusi. Aha. Resolusi. Solusi yang diulang ulang. Atau mungkin bisa aku katakan bahwa hari baru ini adalah hari lama yang dikemas dengan suasana dan kejutan yang baru. Atau bahkan juga tanpa suasana dan kejutan baru. Aha. Hari lama yang aku hadapi sekali lagi. Dan menghadapi hari adalah sebuah seni. Sebuah proses berkesenian. Proses berbudaya. Proses berupaya. Upaya membuat hari lama menjadi hari baru. Hari dengan kejutan dan suasana yang aku ciptakan sendiri.

Menyiapkan diri

Aku harus segera mandi dan menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk membuat hari baruku sesegar dan semengejutkan mungkin. Aku harus menyiapkan diri untuk membuat hari baru ini menarik hasratku untuk tetap menjalani hari hari baru berikutnya. Semoga hari baru ini tidak membuat aku lupa bahwa aku pernah kelabakan mendapat kejutan di hari hari lamaku. Semoga persiapan ini tidak terburu buru dan lupa belum membilas badan yang masih penuh hadapi hari baru.

Aku Seorang Penulis

Tags

, , , ,

Pada mulanya aku selalu ingin bercerita tentang keindahan dan hawa sejuk. Namun aku tidak pernah bisa menyelesaikan ceritaku. Walaupun tentang sesuatu yang menakjubkan, aku tetap saja kehilangan akhir cerita. Aku selalu besar dan menggebu gebu di awal, namun sering berhenti di tengah, untuk hal yang tidak termasuk dalam rencana penceritaan. Aku sering bolak balik meneliti yang spasinya renggang, atau mengganti huruf capital yang luput dari amatan. Dan yang paling sering adalah memuji tulisan sendiri yang belum selesei. Membayangkan seandainya cerita itu selesai dan dinikmati oleh banyak orang, dan semua orang memujiku. Bayangan indah itu tentu saja tidak bakal menjadi kenyataan sebab ceritanya tidak pernah usai.

Cerita Tragis

Lalu aku coba membuat cerita yang berakhir tragis, pilu, sakit hati, letih, menyalahkan diri sendiri, dan bahkan yang akan sangat elok adalah cerita balas dendam, pengkhianatan, keserakahan, dan kebodohan. Berhasil. Aku berhasil menyakiti pembacaku. Walaupun belum berakhir, ceritaku itu benar benar berhasil. Membaca prolog dan bagian tengahnya saja, sudah banyak yang berhenti. Ada yang takut meneruskan karena tahu, jika diteruskan akan merusak suasana hatinya sendiri. Ada yang tidak meneruskan karena bosan sebab hidupnya lebih tragis daripada ceritaku. Yang sangat menusuk adalah yang dikatakan salah satu pembaca ceritaku: “Aku menikmati cerita ini. Terus terang, aku bisa larut dalam ceritamu tapi…..”

“Ayo, teruskan!” kataku.

“Tapi… aku kok, yakin sekali kalau ceritamu ini juga tidak akan kamu selesaikan. Dan itu akan lebih menyakitkanku.”

Baddala.

Penulis Terkenal

Aku sangat rindu dengan pujian. Sudah lama aku tidak mendengar orang memuja dan memujiku. Dan pujian teman pembaca cerita yang terakhir aku ceritakan tadi sangat mencerahkanku. Mukaku jadi merah. Agak panas. Kuping berdesing. Degup jantungku terasa benar. Dia memang istimewa, membuatku berhenti menulis cerita dan terkenal. Sampai saat ini, banyak orang mengenaliku aku dengan sebutan Penulis Cerita Misteri. Yang mereka maksud adalah cerita yang tidak tahu akan berakhir seperti apa karena semua tulisanku tidak pernah selesai.

Pekerjaan Yang Tertunda VS Eat, Pray, Love

Tags

, , , , , , ,

Kamu tahu, apa yang harus aku lakukan sekarang?

He em…

Aku harus bikin surat penawaran kopi, kaos, cetakan, dan advert board dari bahan akrilik. tapi aku tidak melakukannya. Belum. Nanti akan aku lakukan. Iya benar, aku selalu bilang: “Nanti, nanti, nanti aku lakukan.” (apa yang aku lakukan sekarang, coba? Yup, benar. Meng-edit tulisan ini, mengganti huruf yang belum capitalized karena aku copast tulisan awal ini dari notepad ke office word.) Dan aku tidak melakukan apa yang aku katakan sebelum nya. Nanti, nanti, dan nanti bagiku adalah tidak. Dan kau benar benar mengerti aku, terutama tentang hal ini. Tapi, (kata ini akan aku ganti kalau nanti aku edit lagi, dengan kata: “akan tetapi” huft) aku tidak melakukannya kali ini. Aku langsung melakukan apa yang aku ingin lakukan. Aku menulis ini karena aku ingin menulisnya, saat ini. Bukan karena aku baru saja nonton “eat, pray, love”, walaupun mungkin banyak pengaruhnya film itu. (untuk kamu ketahui, aku tidak sengaja tertidur saat “menunggu waktu yang tepat untuk memotong mika – istilah yang aku gunakan untuk mengganti kata: “menunda –) Aku terbangun dan menepuk kaki yang dikeroyok nyamuk (malam ini banyak sekali nyamuk). Aku tutup laptop, dan mencoba memperhatikan TV. Face Off, John Travolta dan Nicholas Cage. Face Off. Filosofis. Menurutku, waktu seperti itu, terjaga dari tidur tidak sengaja dan di depan mata diperlihatkan dua orang yang bertukar muka adalah sangat WOW. Filosofis sekali menurutku. Dan aku menikmatinya. Lalu aku mencari channel lain selepas Face Off. Aku menemukan tulisan kecil di sudut layar sebelah kanan atas “eat, pray, love”.

Kritik Film VS Self Criticism

Belum sekalipun terpikir untuk nonton film ini. Namun Liz Gilbert mempunyai bibir yang mengingatkanku pada seseorang, Liza. Yah, kebetulan saja. Seperti biasa, aku mencari kelemahan kelemahan dari film itu. Eat, Pray, Love hanya menampilkan fatamorgana. Mana bisa semua orang melakukan apa yang dilakukan Liz? Settingnya bagus, cuma harus ada yang dibenahi di sana dan di sini. Oh….

Pencerahan

Aku terlena. Aku lupa, apa lagi kelemahan film itu. Yang aku perhatikan sekarang adalah Liz. Dia mencari sesuatu yang sama seperti aku (mulai sentimental). Apakah perasaanku saat ini juga sama dengan yang Liz Gilbert rasakan? Aku hanyut. Aku mencari cari, seperti siapa aku di situ? Apakah ada aku di situ? Dan aku tertawa saat Liz memulai meditasi pertamanya karena persis seperti itulah yang aku pikirkan saat aku memulai belajar meditasi. Memaafkan, bersenang senang, keseimbangan, pencerahan, Ketut, Wayan, Tutti, Attraversiamo, Felipe, semuanya bersarang di kepalaku. Yah, aku mengaku kalah. Aku tidak menghiraukan lagi kelemahan film itu. Oh, ya, ending film itu tidak terlalu menyenangkan buatku. Aku akan membuat ending sendiri jika film itu menceritakan pengalamanku.

Tahukah kamu, aku belum berhasil mengurangi daftar pekerjaan tertundaku.

Counting Crows setelah Carlos Nunez

Tags

, , , , ,

Hallo dear temans semuanya, share lyric ini, ya….

Setelah 2 malam penuh cutter dan stiker alias memotong stiker tapi bukan cutting sticker cuma memotong stiker saja, dengan ditemani Carlos Nunez. Sekarang saya masukkan dalam play list satu album Counting Crows : Films about Ghosts (The Best of…) dan lagunya memang ghostsy banget (baca: gossi bingits), membuat merinding…. entah takut entah pura pura takut, yang jelas gossi bingits….

Silahkan disimak salah satu lagu di dalam album tersebut: She Don’t Want Nobody

She don’t want nobody near
But you can’t get away from that
They appear and disappear
And they all have got strings attached

Pretty soon they got you hanging on the line
Pretty soon theyre singin
One by one the same old rhyme
They say, “I’m all right, I just cant get home tonight”

She don’t want nobody home
Cause it’s a little too crowded there
She don’t want to be alone
So they just keep pourin in

Pretty soon they got her headed for the door
She comes home to find
Theyre not hangin round no more
She says, “I’m all right, you just cant get home tonight”

Dont you wonder
What she looks like in the light?
She says Im all right, I just cant get home tonight

Pretty whitewashed lies, endless alibis
And reasons that need cleanin every night
Half a world away, you can’t wash away
The stain of her deceivin
And the things that you could not believe in

Well, she don’t want no one around
Cause she don’t want anybody to see
What she looks like when she’s down
Cause thats a really sad place to be

Pretty soon she gets them crawling up the walls
Then she wonders why
They beg her please, then never call
She says, “I’m okay, it’s all right, hey, look whos on TV tonight
She says, “I’m all right, I just can’t get home tonight”

Dont you wonder
Why its dark outside at night?
She says Im all right, I just cant get home tonight
She says Im all right, I just cant get home tonight

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.